Jakarta – Isu intoleransi membuka luka lama Tan Joe Hok. Legenda bulutangkis itu berharap para pemain nasional tetap berlatih keras tanpa gangguan masalah serupa.
Tan Joe Hok menangis saat menuturkan kisah pahit di masa lalunya di sebuah hotel di Jakarta, Kamis (1/5/2017). Peristiwa yang disebut sebagai G30S/PKI pada tahun 1965 dan kerusuhan 1998 begitu mengoyak ketegaran pria sepuh yang tercatat sejarah sebagai juara All England pertama dari Indonesia.
Bagaimana dia kesulitan mengurus kewarganegaraan seperti warga keturunan lainnya. Sampai-sampai dia harus menanggalkan namanya yang sudah terlanjur dikenal dunia itu dengan nama yang asing: Hendra Kartanegara setelah Orde Baru bergulir. Akhirnya dia memutuskan untuk mengungsi ke Hong Kong dan Meksiko.
Padahal di tahun 1959, Tan Joe Hok sudah menjadi juara All England untuk Indonesia. Setahun sebelumnya, dia juga diarak keliling Jakarta sebagai bagian tim Piala Thomas yang menjadi juara.
“Setelah juara Piala Thomas itu, kami disambut dengan meriah di Istana Negara oleh Presiden Sukarno. Kami diarak keliling dari Hayam Wuruk sampai ke Bandung. Ini siapa (sembari menunjuk sebuah foto). Pak Karno dan di belakang beliau itu saya. Waktu itu, beliau bilang ‘kamu adalah pahlawan bangsa ini’,” ujar Tan Joe Hok yang hadir bersama-sama Komunitas Bulutangkis Indonesia itu.
[Baca Juga: Ketika Legenda Bulutangkis Indonesia Bicara Isu Kebhinnekaan]
Tak Joe Hok tak ingin para atlet yang sudah bertarung untuk Indonesia tak mendapatkan pengalaman serupa. Dia berdoa agar para pemain di pelatnas Cipayung tetap bsia berlatih maksimal demi bisa mencapai prestasi di level internasional seperti yang sudah-sudah.
|
|
“Bukan, saya tidak patah hati terhadap negara ini. Saya sedih, Saya miris kalau sampai peristiwa serupa terulang lagi. Jangan sampai intoleransi ini menjadi peristiwa huru hara,” ungkap Tan Joe Hok.
“Mereka (para pemain pelatnas Cipayung) tidak tersentuh. Anggap saja mereka (orang-orang yang melakukan tindakan intoleransi) tidak tahu apa yang mereka lakukan. Bawa saja dalam doa agar mereka tidak mengganggu pelatihan agar olahraga bulutangkis tetap berprestasi,” tutur pria 79 tahun lulusan Baylor University, Texas, Amerika Serikat itu.
(fem/mrp)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar